Sterling naik ke level tertinggi dalam delapan hari pada Jumat (6/7) karena para pedagang menunggu hasil dari upaya terakhir Perdana Menteri Theresa May untuk menyatukan pemerintahnya atas rencana untuk masa depan Inggris di luar Uni Eropa.

Pertemuan di Chequers, kediaman May, yang dipekirakan berlangsung hingga larut malam, akan melihat seruannya kepada menteri untuk menempatkan divisi Brexit di belakang mereka dan bergerak maju dengan mendukung dokumen kebijakan kertas putihnya.

Sterling Berkesempatan Naik Di Saat Dolar Terpuruk Karena NFP

Kenaikan pound pada hari Jumat (6/7) sebagian besar didukung oleh pelemahan dari dolar AS setelah perilisan data ketenagakerjaan AS.

Kurangnya kemajuan dalam pembicaraan dengan Brussels tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada Maret 2019 telah membebani pound tahun ini. Dikombinasikan dengan tanda-tanda pelemahan ekonomi, telah mendorong mata uang tunggal tersebut ke posisi terendah dalam tujuh bulan.

Uni Eropa mengatakan kepada Inggris pada hari Jumat (6/7) bahwa masih ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai Brexit. Pedagang mengharapkan volatilitas dalam pound untuk melompat setelah rincian perjanjian menjadi jelas pada Jumat (6/7) malam.

Risiko yang dihadapi oleh May adalah adalah sejumlah menteri yang mungkin berhenti jika mereka menganggap rencananya untuk membuat Brexit yang lunak. Di sisi lain, banyak analis memperkirakan

Pound naik sebesar 0,4 persen ke setinggi $ 1,3279 terhadap dolar AS disesi awal perdagangan hari Jumat (6/7). Namun pound juga tergelincir sebesar 0,2 persen terhadap euro yang lebih kuat hingga mencapai 88,64 pence.